Soetha, 30 april 2012
Jatuh cinta bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dengan siapa saja. Tapi apakah pernah kamu merasakan jatuh cinta pada orang yang sama disituasi yang sama pada waktu yang sama untuk kedua kalinya?
Berkali-kali diusapnya air matanya. Posisi tubuhnya pun disengajakannya memunggungi lelaki itu. Agar lelaki itu tidak melihat air bening disudut matanya. Ia kucek, kemudian ia pura-pura menguap agar ada alasan untuk mata yang memerah dan berair itu. Ia coba tersenyum, untuk menyamarkan kesedihan. Tapi tetap saja. Makin lama, air matanya malah makin deras. Ia nyaris terisak.
Diam-diam ia kabur ke kamar mandi. Didalam ruangan berdinding keramik putih itu akhirnya ia tumpahkan semua. Ia menangis sejadi-jadinya. Mata merah, hidung merah, jelek! Kemudian ia becermin. Membasuh mukanya tiga kali, memoles ulang wajahnya dengan makeup seadanya. Dan, ia kembali cantik. Setengah berlari ia menuju si lelaki. Memeluk manja, berusaha tersenyum wajar.
Tapi ia lupa satu hal “menyembunyikan gurat perih dimatanya”. *
Lelaki itu membalas pelukannya dengan sebuah kecupan manis di pipi sambil membelai mesra rambut pirangnya. Bikin iri! Mereka siap melanjutkan perjalanan. Tapi tunggu, lelaki itu tiba-tiba terdiam. Ditatapnya wajah si perempuan lekat-lekat. Ia seperti menangkap sebentuk ketidakwajaran dalam balutan kewajaran.
Ia dekap perempuan itu. Lirih ia berbisik, “Kenapa?? Apa yang membuatmu bersedih?” Perempuan itu diam. Kemudian tersenyum, “no. Everything was fine. Aku cuma sedih aja sebentar lagi liburan kita berakhir”. Lelaki itu diam saja. Tampak dari raut wajahnya, ia belum puas dengan jawaban si perempuan. Mungkin, sekarang ia akan membatin, bohong!
“aku tahu kamu bohong. Kamu tidak akan sanggup menyembunyikan kebohongan itu lama-lama.”
Ada hening yang lama setelah pria itu menyelesaikan ucapannya. Si perempuan lagi-lagi tertunduk. Ada jengah yang terbaca tetapi susah untuk diungkap.
“enggak! Aku gak bohong.”
” ya sudah, yang penting kamu ga sedih lagi ya. Ini liburan kita lho, masa ada sesi nangis-nangisnya sih?!”
Dengan sabar pria itu menuntun si perempuan menuju pintu keluar. Ribuan tanda tanya di benaknya. Tapi ia simpan. Ia tidak mau liburannya hancur berantakan.
” iya. Iya aku bohong sama kamu. Aku tidak tahu aku kenapa. Aku merasa sendiri. Aku merasa aku hanya hidup untuk diriku sendiri. Maafkan aku. Maafkan keegoisanku. Tapi aku ragu dengan ini semua. Suatu saat, kamu pasti akan meninggalkanku sendiri. Cepat atau lambat. Aku hanya tidak mau merasakan sakitnya saat ditinggalkan. Lebih baik kamu memang tidak pernah masuk kedalam hidupku.”
“apa kamu anggap hubungan kita selama ini? Kamu tidak pernah memandangku dengan kedua matamu? Atau mungkir sekedar memikirkanku dengan akal sehatmu? Apa aku hanya pelarian?” pria itu melontarkan pertanyaan yang tidak habis dipikirnya. Kenapa? Kenapa setelah selama ini engkau berpikir begini? Kenapa pada saat aku bertekad untuk melamarmu, tiba-tiba engkau malah lari menjauhiku? Menyakitiku dengan keraguanmu?
” aku hanya takut ditinggalkan lagi. Itu saja. Selama ini aku sendiri, biarlah selalu begitu. ” air mata perempuan berambut pirang itu semakin deras. Tidak ada lagi topeng kebahagian. Kali ini ia jujur. Ia adalah gadis berambut pirang yang sedang dalam keraguan.
” honey. Look at me. Kapan aku meninggalkanmu sendiri? Pernah? Mulai dari ketika aku melihatmu untuk pertama kalinya, ketika menangis terisak sendiri di ruang tunggu bandara ini, dari situlah aku berjanji pada diriku untuk membuatmu selalu bahagia. Untuk menemanimu. Maaf, jika aku tidak bersamamu dua puluh empat jam, tujuh hari seminggu. Tapi aku akan selalu ada. Aku rumah untukmu. Aku pelindungmu. Aku tidak mengharapkan balasan. Tapi aku hanya mau satu, tersenyumlah untukku disetiap harinya. ” Perempuan itu mendekap erat kekasihnya. Tangisnya semakin kencang. Ada lega dan cinta luar biasa yang tersembunyi pada setiap isaknya. Perempuan itu sadar, ia sedang jatuh cinta.
“Dan, itu adalah kata-kata termanis yang pernah kudengar. Ini tepat, dua tahun pertemuan kami di bandara ini. Tepat dua tahun, untuk pertama kalinya aku melihat sekulum senyum manis dan tatapan itu. Terimakasih Tuhan, untuk mengingatkanku bahwa cinta sejati itu masih ada.”
Special : untuk kamu yang tidak pernah jemu meyakinkanku. Untuk dua pecinta yang berdiri dihadapanku. Cinta sejati memang selalu ada.

